Hukum Melebihkan Pengembalian Hutang

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

Masshar2000.com – Dalam kehidupan sehari-hari , kita tentunya tidak lepas dari yang namanya hutang bukan ?
Tidak banyak orang didunia ini yang tidak punya hutang .

Hutang terkadang bisa membantu memecahkan persoalan ekonomi , apalagi disaat-saat yang sangat dibutuhkan , seperti misalnya disaat ada keluarga yang sakit atau anak masuk sekolah dan kebetulan uang tabungan tidak mencukupi .

Tidak berhutang rasanya mustahil , tapi jika kita takut berhutang , tidak dibenarkan juga kita membiarkan keluarga kita sakit tanpa dibawa ke dokter apalagi kalau di haruskan opname atau operasi yang pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit . Tidak dibenarkan pula kita tidak menyekolahkan anak kita , karena sebenarnya kita mampu dan ” hanya ” kebetulan pas tidak punya uang karena mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak dari setiap anak .

Nah , mau tidak mau kita tetap berhutang bukan ?
Berhutang tidak melulu riba , karena menjadi riba atau tidak itu tergantung akadnya .

Jika kita terpaksa berhutang , sebelum ke bank konvensional , hubungilah dulu saudara kita atau teman baik kita , tidak perlu malu , karena kita memang butuh dan niatnya berhutang dengan tidak riba.

Memangnya ada hutang yang tidak riba ?
Apakah boleh mengembalikan utang berlebih? Bagaimana jika dijadikan prasyarat awal? Bagaimana jika itu adalah bentuk kerelaan dari yang meminjam?

Mari kita pelajari disini .
Utang yang Dipersyaratkan Ada Tambahan

Ada hadits yang berbunyi,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً, فَهُوَ رِبًا

“Setiap utang piutang yang ditarik manfaat di dalamnya, maka itu adalah riba.” (Diriwayatkan oleh Al Harits bin Abi Usamah ).

Sanadnya terputus sebagaiaman disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Begitu pula hadits ini punya penguat dari Fadholah bin ‘Ubaid dikeluarkan oleh Al Baihaqi)

Walau hadits di atas dha’if (lemah) namun kandungannya benar karena dikuatkan oleh kata sepakat para ulama.

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

أجمع العلماء على أن المسلف إذا شرط عشر السلف هدية أو زيادة فأسلفه على ذلك أن أخذه الزيادة ربا

“Para ulama sepakat bahwa jika seseorang yang meminjamkan utang dengan mempersyaratkan 10% dari utangan sebagai hadiah atau tambahan, lalu ia meminjamkannya dengan mengambil tambahan tersebut, maka itu adalah riba.” (Al Ijma’, hal. 99, dinukil dari Minhatul ‘Allam, 6: 276).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Bagaimana Jika Tambahan Bukan Prasyarat Awal ?

Jika tambahan bukan prasyarat awal, hanya kerelaan dari pihak peminjam saat mengembalikan utang, tidaklah masalah dan tidak termasuk riba .

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Raafi’ bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam dari seseorang unta yang masih kecil. Lalu ada unta zakat yang diajukan sebagai ganti.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyuruh Abu Raafi’ untuk mengganti unta muda yang tadi dipinjam. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantian kecuali unta yang terbaik (yang umurnya lebih baik ).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab,

أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ أَحْسَنَهُمْ قَضَاءً

“Berikan saja unta terbaik tersebut padanya. Ingatlah sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi utangnya.” (HR. Bukhari no. 2392 dan Muslim no. 1600).

Dari hadits di atas para ulama mengatakan bahwa sah-sah saja untuk berutang karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas melakukannya. Namun berutang hendaklah di saat butuh saja karena berbagai dalil menunjukkan akan bahayanya berutang.

Baiknya memang tidak bermudah-mudahan dalam berutang, apalagi dalam perkara yang sebenarnya ketika kita tidak punya pun, tidak masalah. Akan tetapi demikianlah, sebagian orang ada yang terlalu memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhan semacam itu sampai-sampai selalu menempuh jalan untuk berutang.

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa boleh menunaikan utang lalu mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mengganti di sini bisa jadi dari sisi sifatnya, bisa jadi pula dari sisi jumlah.

Kalau yang disebutkan dalam hadits adalah dari sisi sifat, artinya unta yang diganti adalah dengan unta yang lebih baik. Bisa juga diganti dengan jumlah yang lebih banyak. Misalnya, ada yang meminjam 1 kg beras, kemudian diganti 2 kg. Itu sah-sah saja. Karena yang bisa kita pahami adalah makna umum, yaitu bisa mengganti utang dengan sesuatu yang lebih baik, di situ bisa dipandang dari sisi jumlah ataupun sifat. Kita bukanlah berpatokan pada kisah atau sebab yang disebutkan dalam hadits. Namun makna umumnya yang diambil. Kaedah yang biasa disebutkan oleh para ulama,

أَنَّ العِبْرَةَ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

“Yang jadikan ibrah (pelajaran) adalah umumnya lafazhnya, bukan khususnya sebab.”

Catatan penting yang perlu diperhatikan, dibolehkan adanya tambahan dalam pengembalian utang selama bukan prasyarat di awal sebagaimana diterangkan dalam awal tulisan ini.

Dan sebagai tambahan , sebagian ulama dan pakar dalam hal ini menganjurkan agar jika kita berhutang , berhutanglah emas karena harga emas relatif stabil mengikuti inflasi .

Sebagai contoh kita pinjam emas 100 gram pada tahun 2000 , harga emas di pasar katakanlah 200rb per gram , maka jika di rupiahkan akan menjadi 20 juta . Dan kita mengembalikan pinjan 10 tahun kemudian .
Jika kita berpatokan pada nilai uang maka sepuluh tahun kemudian kita tetap mengembalikan 20 juta , padahal nilai mata uang sudah naik 3 kali lipat . Maka yang terjadi kita hanya ibarat mengembalikan 4 juta saja .

Tapi jika kita mengembalikan dalam bentuk emas , maka kita tetap mengembalikan 100 gram dan harga emas pun juga sudah naik bisa 3 kali lipat . Artinya si pemberi hutang juga tidak dirugikan .

Demikian, semoga bermanfaat. Semoga kita semakin memahami mengenai riba dan berusaha untuk menjauhinya. Hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk, wa billahit taufiq was sadaad.

Wassallamu’allaikum…

Referensi:

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H.

Ngobrol disini !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s