Benarkah Gus Muwafiq Menghina Nabi ?

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

Masshar2000.com – Lagi dan lagi ,untuk kesekian kalinya ulama NU dicari-cari kesalahannya . Kali ini menimpa kyai muda NU Gus Muwafiq .

Saat ini Gus Muwafiq sedang ramai diberitakan lantaran dianggap mencela Rasulullah SAW, karena salah satu materi ceramahnya yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW saat kecil rembes.
Akibatnya, banyak sekali penolakan,terutama pihak-pihak yang selama ini berseberangan dengan NU , bahkan salah satu poster di Reuni Alumni 212 juga menyebutkan penolakan tersebut. Namun belakangan Gus Muwafiq meminta maaf dan memberikan klarifikasi bahwa pernyataannya tersebut tidak hendak mencaci Rasulullah SAW.

Terkait dengan ramainya pemberitaan tentang Gus Muwafiq ini, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Ahmad Machasin menyebutkan bahwa data-data terkait masa kecil Rasulullah SAW memang sulit ditemukan orang awam .
Menurut Machasin, yang banyak menceritakan masa kecil Rasulullah biasanya buku-buku sirah (sejarah) yang masih membutuhkan banyak penelitian lebih lanjut.Walaupun memang banyak kitab yang menjelaskan perjalanan nabi dari kecil hingga diangkat menjadi nabi dan rosul .

Walaupun demikian, Machasin menyebutkan bahwa dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menyebutkan terkait riwayat pribadi Rasul, misalnya Q.S al-Kahf ayat 110:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Juga Q.S Fussilat ayat 6, yang keduanya menjelaskan bahwa Allah SWT meminta Nabi SAW untuk menyatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa seperti umumnya manusia yang ada.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,”

Dalam Q.S al-Kahf ayat 6 dan al-Syuara ayat 3 juga menyebutkan bahwa Rasul bisa jadi akan bunuh diri jika orang-orang tidak mau percaya kepadanya.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).”

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.”

Selain itu, ada juga beberapa ayat lain yang disebutkan oleh Machasin untuk menunjukkan bahwa Rasulullah bukanlah manusia super yang dengan kekuatannya ia bisa melawan musuh-musuhnya. Rasul masih menggunakan kemampuan dirinya sebagai manusia biasa untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT.

“Muhammad adalah manusia historis yang mesti berjuang dengan kekuatan yang ada dalam dirinya untuk mencapai kemenangan risalah yang diembannya, bukan manusia super dengan mukjizat yang mencapai tujuannya dengan kekuatan di atas kekuatan manusia,” tuturnya.

Misalnya dalam Q.S al-Baqarah ayat 214, ketika beliau dan para sahabat terkepung musuh sehingga hati berharap-harap cemas karena pertolongan Allah tidak segera datang.

مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Jadi jika menganggap ceramah gus Muwafiq ini sebenarnya ada dasarnya , namun mungkin pemilihat kata dan kalimatnya saja yang memakai bahasa jawa , mungkin tidak bisa di tangkap oleh sebagian orang .
Kata rembes yang dimaksud gus Muwafiq adalah sakit pileg atau meler atau rembes dan itu biasa dialami anak-anak , apalagi dimasa kecilnya nabi memang pernah menggembala domba dan bergaul secara umum dengan teman seangkatannya .

Namun jangan disalah artikan juga kalau misalnya anak-anak di jamannya bertindak nakal misalnya mencuri kurma , karena nabi memang dilindungi oleh malaikat dan nabi adalah maksum , dijauhkan dari dosa .
Tentu berbeda maksudnya dengan rembes atau menggigil karena itu sakit dan tidak berkaitan dengan aklaq .Seperti misalnya saat nabi bertapa di gua hira dan didatangi malaikat sebelum menerima wahyu , dalam kisahnya nabi sempat takut dan menggigil .

Jadi jika Gus Muwafih dianggap menghina nabi Muhammad itu terkesan berlebihan , apalagi dalam tradisi NU sendiri sangat menyukai sholawat nabi dan juga banyak kitab-kitab atau qasidah seperti Burdah , Barzanji yang semuanya memuliakan nabi Muhammad .

Pecinta sholawat tidak mungkin mencela nabi

Dan yang perlu dicatat adalah Gus Muwafiq juga sudah meminta maaf kalau ada ucapannya yang dianggap lancang dan menyinggung umat islam , karena tidak ada sedikitpun niat untuk menghina nabi Muhammad yang sangat dicintainya . Tidak ada logikanya orang mencinta sekaligus mencela .
Wallahu’alam…

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum …

2 thoughts on “Benarkah Gus Muwafiq Menghina Nabi ?

  1. Ping-balik: Pasca di Demo , Acara Gus Muwafiq Tetap di Gelar di Solo | Masshar2000

  2. Sekelumit masa kecil Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu’alaihi Wasallam

    Berikut ini kutipan dari kitab “Nurul Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin” karya Syaikh Muhammad Al Khudhari asy Syafi’i. Beliau mengatakan:

    ثم إن أمه أخذته منها، وتوجهت به إلى المدينة لزيارة أخوال أبيه بني عدي بن النجار، وبينما هي عائدة أدركتها منيتها في الطريق فماتت بالأبواء

    Kemudian ibunda beliau (Aminah) membawanya ke Madinah untuk berkunjung ke rumah paman-paman dari Abdullah, dari kalangan Bani Adi bin an Najjar. Ketika perjalanan pulang dari sana, Aminah wafat di perjalanan, di suatu tempat bernama al Abwa’.

    فحضنته أم أيمن، وكفله جده عبد المطلب، ورَقَّ له رِقَّة لم تُعْهَد له في ولده، لما كان يظهر عليه مما يدل على أن له شأنًا عظيمًا في المستقبل، وكان يكرمه غاية الإكرام

    Kemudian ia dirawat oleh Ummu Aiman dan dipenuhi nafkahnya oleh kakeknya, Abdul Muthallib. Abdul Muthallib sangat-sangat menyayangi cucunya tersebut, dengan kasih sayang yang tidak pernah diberikan kepada anak-anaknya sendiri. Karena nampak dari diri cucunya, perkara-perkara yang menunjukkan sesuatu yang luar biasa di masa depan. Dan ia memuliakan cucunya dengan penuh pemuliaan.

    ولكن لم يلبث عبد المطلب أن تُوفي بعد ثماني سنوات من عمر الرسول صلى الله عليه وسلم، فكفله شقيق أبيه أو طالب فكان له رحيمًا وعليه غيورًا، وكان أبو طالب مقلًا من المال فبارك الله له في قليله

    Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena Abdul Muthallib pun wafat ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berusia 8 tahun. Kemudian beliau dirawat oleh saudara kandung ayahnya, yaitu Abu Thalib. Abu Thalib sangat menyayangi beliau dan sangat melindungi beliau. Ketika itu Abu Thalib adalah orang yang sedikit hartanya, namun Allah berikan keberkahan dalam hartanya yang sedikit itu.

    وكان الرسول صلى الله عليه وسلم في مدة كفالة عمه مثال القناعة والبعد عن السفاسف التي يشتغل بها الأطفال عادة، كما روت ذلك أم أيمن حاضنته، فكان إذا أقبل وقت الأكل جاء الأولاد يختطفون وهو قانع بما سييسره الله له

    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika dirawat oleh pamannya, beliau sudah memiliki sifat qana’ah dan jauh dari perkara-perkara rendahan yang banyak dilakukan oleh anak-anak seusianya. Sebagaimana pernah dilihat oleh Ummu Aiman ketika merawat beliau. Yaitu jika datang waktu makan, maka anak-anak lain umumnya berebutan makanan. Namun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika itu bersikap qana’ah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya (tidak ikut rebutan makanan).

    [selesai nukilan]

    Maka dari sini kita bisa simpulkan:

    Kakek Nabi, Abdul Muthallib, mengurus beliau dengan sangat baik, penuh kasih sayang, bahkan kasih sayang kepada cucunya tersebut melebihi kasih sayang kepada anak-anaknya.
    Masa kecil Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terjaga dari akhlak-akhlak rendahan. Beliau tidak sama seperti anak-anak lain. Jangankan mencuri jambu atau kurma, rebutan makanan saja beliau enggan dan lebih memilih ridha dengan sisa makanan yang ada.
    Sejak kecil sudah terdapat tanda-tanda kemuliaan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam. Orang-orang pun menyayangi dan memuliakan beliau, karena merasa akan ada hal besar dari diri beliau di masa depan.

    Tidak ada sedikit pun yang bisa direndahkan dari diri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, tentunya ini karena penjagaan Allah kepada beliau sebagai persiapan untuk menerima risalah sehingga beliau menjadi orang yang sempurna menyampaikan hidayah kepada manusia, mengajak manusia ke jalan yang lurus menuju Jannah-Nya.

    Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

    **

    @fawaid_kangaswad

    Suka

Ngobrol disini !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s