PLOMBIR , Cara Bayar Pajak Sepeda Jaman Dulu

Masshar2000.com – Kamu yang anak 70-80 an pasti pernah merasakan naik sepeda ontel yang ada pajaknya kan ?

Para pengendara motor atau mobil di zaman sekarang mungkin merasakan kepanikan dan ‘dag dig dug’ pada saat ketemu razia SIM atau STNK, apalagi jika lupa membawa surat-surat tersebut.

Hal yang sama juga dirasakan pengendara sepeda jaman dahulu, di tahun 1980-an jika ada ‘cegatan’ (razia) peneng atau razia lampu.

Peneng (diucapkan “pèneng”, kadang ditulis ‘pening’, istilah lain: plombir) adalah semacam stiker berukuran kira-kira 5×6 cm. Pajak sepeda merupakan salah satu pendapatan pemerintah daerah dan biasanya dibayar secara tahunan seperti pajak motor jaman sekarang , tapi kamu gak perlu ke samsat untuk bayarnya . Bukan karena ada sistem online , tapi memang jaman itu belum ada internet , hape aja belum ada apalagi internet . Pun begitu jaman dulu sudah ada kuota , tapi kuota haji …hehehe.

Dalam rangka ‘penegakan hukum’ agar warga taat membeli plombir , aparat kabupaten (mungkin petugas dinas pendapatan daerah) kadang-kadang menggelar razia di jalan-jalan utama guna mengecek apakah sepeda kita sudah berplombir .

Jika belum, sadis gaes hukuman nya,pengendara wajib membeli di tempat berupa stiker yang ditempel di body sepeda .

Tidak semua warga merasa senang dengan ketentuan plombir sepeda ini……
Ketika razia berlangsung mereka biasanya panik dan berupaya menghindar dengan beberapa cara, yaitu berhenti di tempat agak jauh menunggu hingga razia selesai, ‘mlipir’ mencari jalur alternatif melewati gang-gang kecil atau memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi dan nekat bermanuver menerobos razia.

Cara ketiga ini tentunya cukup menimbulkan ketegangan dengan petugas.

Plombir sepeda kini sudah tidak lazim, selain mungkin karena jumlah sepeda sudah terlalu banyak, penegakan hukumnya juga sulit karena tidak ada sistem registrasi seperti kendaraan bermotor.

Selain razia plombir sepeda, dahulu juga ada razia lampu sepeda yang diterapkan oleh Polisi. Kebijakan itu diambil kemungkinan demi keselamatan pengendara sepeda itu sendiri mengingat lampu jalan saat itu belum banyak.

Lampu sepeda dioperasikan dengan teknologi sederhana menggunakan dinamo kecil yang tenaganya diambil dari putaran roda sepeda, dengan cara menempelkan ujung dinamo ke permukaan samping ban.
Porsi makanan sipengendara menentukan,apakah lampu itu terang atau akan redup.😜

Baik razia plombir atau lampu selalu menjadi tontonan beberapa warga sekitar terutama anak-anak….kalau jaman sekarang pasti sudah divideoin dan disebar ke medsos .

Ketegangan yang terjadi antara petugas dan pengendara sepeda yang ‘mbalelo’ menjadi drama tersendiri bagi mereka yang menyaksikan.

Hayyoo.. Siapa saja yang sudah pernah merasakan dag dig dug’nya ketemu dengan razia yg satu ini?? Berarti dia sudah SENIOR!! 😄😄 …aku gak bilang tua lho ya …

Oohh iya,hampir lupa….
Dulu radio dan Televesi juga ada pajaknya lho !

Kira-kira kalau sekarang pak Jokowi menerapkan pajak sepeda atau plombir , kamu mau beli gak gaes …murah lho , jaman dulu cuma 500 rupiah . Mungkin kalau dirupiahkan sekarang sekitar 10-20 ribu rupiah atau seharga sebungkus rokok .

ah , jadi pingin sepedaan nih …

Ngobrol disini !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s